Kamis, 28 Februari 2019

Kipas Angin



Pernah melihat benda berputar ini? Benda yang memiliki kehebatan bisa mengipas angin, makanya namanya kipas angin, kalo yang di tempat sate namanya kipas sate, eh asap sate. Oke itu hanya joke saja.

Ada apa dengan kipas angin? Sebuah pemikiran muncul di telinga saya, bagaimana jika kita belajar dari apa yang ada di sekitar kita, kita maknai untuk apa sebenarnya benda itu, dari sisi yang berbeda tentunya, dari sudut pandang yang tak dapat dipandang dengan hanya dua mata, karena masih ada mata kaki dan juga mata hati.

Baiklah, kipas angin biasa digunakan ketika kita merasa gerah, terutama ketika matahari terik, dengan harapan dapat sedikit menyejukkan badan melalui angin yang ditiup di sekitar kita, namun tidakkah kita lihat bahwa perputarannya selalu sinergis? Maksudnya disini adalah antar baling-baling perputarannya sama, searah dengan jarum jam semua. Next ketika saklarnya dicabut, baling-baling itu seketika akan mati karena tidak ada pasokan energy listrik yang diubah menjadi energy gerak, ya kipas angin itu mati, terdiam, kehilangan kekuatannya, mungkin secara kasat mata angin akan mengejeknya, karena angin tak dapat dikipas kipaskannya lagi, mau mengeluh? Bagaimana caranya? Apakah kipas angin bisa bicara pada tuannya untuk kembali menghidupkannya? Tidak, tidak sama sekali, lalu bagaimana kipas angin meratapi hal tersebut? Ia hanya menunggu beristirahat, pikirnya ia juga sesuatu yang butuh istirahat, bukankah bila ia terus menerus bekerja maka ia akan cepat rusak, ah iya benar juga.

Lalu pelajaran apa yang kita dapatkan dari penjabaran diatas? Ah iya manusia butuh istirahat tentu, tidak boleh mengeluh terutama bila diolok-olok, angin itu rindu tu ama kipas angin makanya diolok-olok, kalo ada yang ngolok-ngolok kalian udah golok aja, eh jangan. Berarti dia lagi rindu ama lu. Hmm dhomirnya ganti2 terus, semoga pada paham. Next kita juga harus tahu waktu dan batasan kita, sebagai manusia itu kerjanya apa, kapan waktu buat ngurusin dunia, dan juga mempersiapkan amal kuda bekal di akhirat. Sedikit sedikit lama-lama jadi ga sedikit, nah gitu kira-kira hal-hal yang dapat kita pandang dari kipas angin, kiranya ada yang punya pendapat lain juga boleh berpendapat selama pendapat belum berubah jadi penbisa, sekian.

Minggu, 24 Februari 2019

Bersama


Ngapain sendirian disini? Dih jomblo ya sendirian terus? Ga malu tuh ama sepatu, sepatu aja pasangan?

Pernah gasi ditanyain gitu, mungkin sebagian merasa gapeduli atau sebagian lagi udah kebal akan hal itu. Baiklah rekan rekan jofisa harap bersabar.
Pernah merasa sendiri? Benar-benar sendiri? Rasanya ga mungkin kalian pernah sendiri karena dalam tubuh kita itu ada banyak bakteri baik itu yang manfaat maupun mudharat, terus disekitar kita juga banyak bakteri dan virus yang berterbangan ghaib tidak terlihat, andai saja Allah ciptakan mereka terlihat oleh manusia tanpa bantuan mikroskop tentu kita akan kesulitan hidup karena harus menghindar menjauh dari mereka terlebih yang dapat menyebabkan penyakit, kitapun tidak boleh berandai andai, karena Allah lah yang telah menciptakan segalanya dengan begitu indah, begitu sempurna hingga siapapun tidak ada yang dapat menandingi kekuasaan-Nya. Ya intinya kita ga SENDIRI kan, lalu pernah ga hati gelisah merasa ga punya semangat hidup, buat apa gw hidup si, kok hidup gtu banget ya ga adil ama gw, pernah ga? Gw bukannya banyak omong aja si emg gw jga pernah ngerasain itu, dan itu emang ngeganggu banget, apalagi kalo kita ga mengisi waktu yang sudah Allah kasih buat kita dengan kegiatan yang bermanfaat baik buat diri kita terlebih bisa bermanfaat untuk orang lain.

Pernah denger kalimat gini ga? Kamu ga sendirian, tenang, ada Allah. Allah itu dekat dengan kita melebihi dekatnya urat leher kita. Percaya ga? Emang susah kalo kita melogika kannya , karena apa? Karena pengetahuan kita memang terbatas, keterbatasan yang ada bukan berarti itu melemahkan kita, namun itu adalah salah satu cara agar kita saling kolab buat melengkapi keterbatasan yang ada meskipun pada akhirnya keterbatasan itu senantiasa akan terus ada agar manusia tak melampaui batas.

Pada Intinya, kita ga pernah sendirian, akan ada Allah yang slalu care sama kita, udah diperhatiin kita juga harus perhatian, nanti ngambek lagi ga diperhatiin meskipun kita tahu Allah ga akan ngambek sama kita asal kita ga neka neko, nah gimana caranya biar slalu bersama dan merasa Allah slalu ada di dekat kita. Dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, simple kan tapi harus kita pahami maknai dan diamalkan.

Ada sebuah kutipan lagu dari UNIC-Slalu bersama, sebagai penutup dari tulisan ini.

Andai kau rasa
Indahnya cinta
Kau ingin selalu bersama

Setiap saat
Setiap waktu
Seakan tidak jemu

Begitulah jiwa
Yang kekosongan
Iman jangan dipisahkan

Saat kau hadir
Memberi kekuatan
Membakar semangat perjuangan

Jagalah dia
Hiasilah dia
Agar senantiasa bersedia

-------

Sabtu, 23 Februari 2019

Terjatuh


Kau pernah melihat rintikan hujan?
Kau pernah melihat buah kelapa jatuh dari pohon mangga? Et dah pohon kelapa maksudnya?
Pernah pernah? Ini bukan bakalan bahas hukum gravitasi ya, pernahkah kau melihatnya?

Apakah hujan akan marah setelah ia berkali kali terjatuh dari langit, itulah cara langit menyampaikan pesan rindunya pada tanah, gatau hujan peka apa engga sama hubungan langit dan tanah, tapi terlepas dari itu dengan rintikan hujan tersebut, air yang terjatuh meresap ke dalam tanah lalu bermuara menuju laut, kemudian air laut menguap membentuk awan, lalu awan mengalami kondensasi membentuk butiran hujan yang ditiup dari daerah tekanan tinggi menuju tekanan rendah, bukan berada diatas laut lagi. Kasihan laut ia hanya sebagai pelampiasan usaha dari air untuk kembali mengangkasa, namun laut tak pernah berburuk sangka pada air, karena sejatinya sejauh-jauh air pergi ia juga akan kembali, begitulah siklus hujan secara sederhana dijelaskan, ada banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya.

Lalu bagaimana dengan buah kelapa yang jatuh dari pohonnya, sama-sama terjatuh bukan? Justru lebih sakit lagi buah kelapa, karena ia tidak dapat berada pada posisinya semula, tidak dapat lagi bertengger diatas memandang indahnya bumi ini, namun ia tak bersedih, nasibnya sekarang hanyalah menunggu untuk menjalani takdirnya, apakah aka nada yang akan mengambilnya, bila ada yang mengambilnya maka dirinya akan memberikan manfaat secara langsung maupun tidak langsung, daging buahnya dapat dimakan, batoknya dapat dijadikan arang hingga serabutnya pun dapat digunakan sebagai alat cuci piring, lalu bila ia dibiarkan saja ia akan menumbuhkan tunas hingga tumbuh menjadi pohon kelapa, kembali menjulang mengangkasa, bahkan melebihi sebelumnya, lalu apakah manusia yang terkadang ia terjatuh, tersungkur karena suatu hal, lalu ia mengeluh, bukan justru memaknai arti dari kejatuhan tersebut, bagaimana ia dapat memberikan manfaat seluas-luasnya meskipun ia dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja dan bagaimana ia mampu tumbuh melebihi ekspektasi sebelumnya, melebihi dirinya sebelumnya.

Bukankah kita diuji untuk meningkatkan kualitas kita? Apakah dengan kejatuhan masalah kita akan jatuh? Atau kita justru melangkah untuk menjadikan masalah itu sebagai penguat diri kita. Dari dua hal sederhana itu kita dapat belajar bagaimana saat kita terjatuh bukan kita menjatuhkan diri kita lagi karena keadaan yang telah menjatuhkan, namun bagaimana kita jauh dari beban jatuh itu,  kita jatuhkan kejatuhan yang telah menimpa kita.

Jumat, 22 Februari 2019

Nama Yang Indah

Apa jadinya ketika dalam dunia ini tidak ada istilah nama, baik itu nama benda, hingga nama manusia, lalu apa kegunaannya? Dalam kesempatan kali ini tentu kita tak akan membahas sejarah mengenai nama, namun kita perlu tahu asal usulnya dari mana sebenarnya nama itu, telah dijelaskan dalam QS Al Baqarah ayat 31-33 mengenai nama. Bagaimana Allah mengajarkan secara langsung kepada Nabi Adam sebagai khalifah pertama di muka bumi ini dengan nama-nama berupa pengetahuan yang nantinya disebarkan di bumi Allah ini hingga menjadi sekarang ini.
Ada yang pernah mengatakan bahwasanya setiap nama adalah do'a, do'a yang kelak menjadi kenyataan yang tersematkan melalui harapan yang ada dalam sebuah nama, lalu kita yakin setiap orang tentu menginginkan sebuah kebaikan, menginginkan sesuatu yang membuat nyaman, sesuatu yang indah. Dibalik sebuah nama juga tersirat akan fungsi dari sesuatu nama tersebut. Lalu seperti apa nama yang baik itu? Kita familiar mengenal Asmaul husna, nama2 yang terbaik, terindah, yang mencerminkan sifat2 yang dimiliki oleh Allah SWT dimana ada 99 nama yang terukir indah menggambarkan betapa keagungan Sang Maha Kuasa, lalu setelah kita tahu nama itu? lantas kita perlu apa? Sebagai Manusia yang merupakan akhsanul kholiqin kita perlu memahami nama2 tersebut, bagaimana nama2 tersebut dapat kita jadikan acuan sebagai hamba-Nya bagaimana kita dapat menuju kepada nama2 tersebut, misalnya al wahab, yang maha memberi, bagaimana Allah memberikan apa yang terbaik untuk hamba-Nya, apa yang hamba-Nya butuhkan, serta diberikan sesuai dengan kadar kemampuan hamba-Nya dalam menerima, sebagai manusia yang mempunyai keterbatasan kita juga dapat melakukan hal seperti memberikan hak kepada yang memiliki haknya, sehingga kita dapat menjadi Abdul Wahab (Hamba Allah yang memberi) dan hidup kita menjadi lebih berharga dengan meneladani nama2 yang indah tersebut.

Kamis, 21 Februari 2019

Cocokkah?

Hei lihat si dia kok sekarang suka promosi-promosi gitu si, eh itu juga satu lagi pake jualan produk produk gitu lagi, ga banget deh.
Tak sedikit komen seperti itu akan dilayangkan, benang yg kuat membuat layangan itu takkan putus hingga sampai pada yg dilayangkan.
Ya pada akhirnya, timbul pertanyaan yg udh dilakuin bener ga si, cocok ga si kayak gini,mulai bingung dengan apa yg udah dilakuin. Hmm hmm yg penting itu Allah ridho, kalau Allah udah ridho apapun itu insyaAllah akan dijaga oleh Allah dari hal hal yang buruk,  baik itu buruk untuk kehidupan dunia maupun akhirat kita. Terus gimana caranya biar  Allah ridho? Aelah pake ditanya, pahami apa yg ada di surat-Nya, bagaimana Allah dapat ridho pada hamba-Nya, ridho orang tua atau kalo udh merit ridho suami, terus ridho dengan baiknya hablumminallah dan hablumminannas,  insyaAllah cocok dah tu, coba aja selama masih bisa mencoba. Terus sebisa mungkin, kita jangan lah melanggar apa yg dilarang untuk kita, memang rezeki tiap orang itu udah ada yg ngatur, bahkan bakteri senano itu pun juga udah diatur rejekinya oleh Allah, lantas kalo dah diatur ngapain kita susah2 usaha ? Ya balik lagi ke hukum awal si, semua yg ada di bumi ada sebab akibatnya, nanam kebaikan bakal dikasi kebaikan, meskipun hukum alam bumi beda sama langit, ya gak?

Minggu, 17 Februari 2019

Menerima

Pernah merasakan amarah yang membara?
atau merasakan kesedihan yang sepertinya takkan pernah usai?
atau justru merasakan kebahagiaan di setiap harinya
tidak ada amarah, kesedihan ataupun kebahagiaan sejati, itu hanya sebutan untuk kondisi yang mengalaminya saja, coba kita pikirkan andaikata tak ada kata sedih, marah, ataupun bahagia untuk diungkapkan sebagai kondisi yang sedang dialami, tentu manusia takkan mengenal istilah istilah itu. Satu hal yang perlu ditekankan disini adalah, pernahkah kita bahagia atau sedang bahagia bahagianya kemudian datang sebuah kesedihan beruntun hingga kita tak dapat merasakan kebahagiaan kembali, untuk apa semua itu terjadi pada kita? Apa kita sedang dipermainkan oleh diri sendiri? Tidak, sekali lagi tidak, itulah hidup penuh dengan warna, terkadang kita berusaha mengingat ingat kebahagiaan yang pernah kita alami dan berusaha melupakan sesuatu yang membuat kita sedih, namun terkadang juga sulit untuk melupakan kesedihan, justru akan slalu kita ingat, lalu kunci dari semua itu ada dimana? Kuncinya adalah menerima apa yang sudah kita terima, sederhana bukan? Menerima berarti kita memahami bahwa apa yang telah terjadi pada kita adalah suatu suratan dari Sang Kuasa agar kita berpikir, sekali lagi agar kita berpikir atas apa yang telah terjadi pada kita, apakah kita sudah menjadi hamba-Nya yang bersyukur atas setiap karunia yang diberikan oleh-Nya? Mari sekali lagi kita pikirkan, tidakkah kita terlalu sering mengingat kesedihan yang menimpa kita dibandingkan kebahagiaan meskipun itu terlihat biasa bagi kita, misal saja dapat menulis, apa kalian tahu banyak diluar sana yang tidak dapat merasakan bangku pendidikan, bahkan mengenal baca tulis saja tak bisa, namun mereka tetap bersemangat untuk slalu melakukan yang terbaik, lalu sekarang dimanakah posisi kita? sudahkah kita menerima apa yang telah ditakdirkan untuk kita dan berusaha memaksimalkan apa yang telah kita miliki?

Jumat, 15 Februari 2019

Jika Lelah Istirahatlah


Kerja keras maupun kerja cerdas yang telah kita lakukan dalam menjalani rintangan demi rintangan hidup yang datang silih berganti tak ayal terkadang membuat kita merasakan kelelahan yang berarti , terkadang bahkan membuat kita ingin menyerah dan terus meratapi nasib atas rintangan yang datang, tapi tahukah kita rintangan itu untuk apa? Rintangan ataupun sering banyak disebut dengan cobaan, yang datang silih berganti, adalah untuk meningkatkan kualitas hidup kita, kualitas diri kita, dan untuk menguji apakah kita sanggup menjadi hamba pilihan terbaik-Nya. Saya kita itu dapat menjadi pelecut bagi kita agar tak pernah menyerah akan rintangan yang dijalani, lalu bagaimana bila kita sudah tak mampu untuk menghadapi ujian tersebut? Ingatlah kita tidak mungkin diuji melebihi batas kemampuan kita sendiri, selalu ingat hal tersebut, ketika kita diuji, ketika kita diberi amanah, ketika kita mendapatkan musibah, atau kebahagiaan sekalipun itu telah digaristakdirkan oleh Sang Maha Kuasa, telah ditentukan untuk kita, agar kita bersyukur serta mengambil pelajaran di setiap hikmah yang ada. Istirahatlah bila kau lelah, namun jangan sampai menyerah, terserah bagaimana beratnya cobaan itu asal jangan kau menyerah. Terkadang saya berpikir mendapatkan apa yang diinginkan, hidup enak, berada di lingkungan yang baik adalah impian umum yang tentunya diinginkan, tapi lebih dari itu ada sebuah hal yang sangat perlu untuk kita pikirkan dan kita impikan, yaitu bagaimana kita mengenali diri kita, sudahkah kita kenal diri kita? Hingga lelah yang datang silih berganti dapat kita ubah sebagai energi positif untuk kita?

Senin, 11 Februari 2019

Selayang Pandang Master Plan


Baiklah dalam kesempatan kali ini, saya ingin menjelaskan pada diri saya sendiri kenapa saya harus membuat sebuah master plan, saya dominan menjalani kehidupan kurang terstruktur karena kebebasan yang saya miliki, serta mobilitas yang mumpuni, kedepan saya ingin hal hal tersebut dapat lebih saya manfaatkan lagi sehingga waktu yang sangat berharga ini dapat digunakan dengan sebaik mungkin. Kedepannya saya yakin, ada rasa malas, jenuh, bahkan ingin putar balik, tapi ketahuilah, surga itu gadidapatkan dengan mudah,dalam artian harus diperjuangkan, perjuangan terhebat adalah menghadapi diri sendiri, so hadapi diri sendiri ya, kamu terlalu berharga untuk menghadapi orang lain. Oke, semangat!
Intan, permata, bahkan mutiara tidak didapatkan di lautan dangkal, di tempat yang mudah, mereka berada di suatu tempat yang sulit dijangkau, hanya orang2 tertentu saja yang mampu menjangkaunya, oleh karena itu jadilah salah satu diantaranya, yang mampu untuk menjangkaunya, semaksimal mungkin usaha dan doamu, jangan sia2kan masa emasmu, jangan takut untuk berjuang, meskipun kedepan badai rintangan akan slalu menunggumu, tapi ingatlah, saat badai itu terus menerus menerjangmu, dan kau tak menyerah, saat itu juga kekuatanmu semakin bertambah, kedudukanmu semakin tinggi, secara implisit khususnya, tak bisakah kau bayangkan yang akan kau dapatkan bila kau slalu bertahan dibalik kesusahan dan melampiaskannya dengan senyuman?

Selasa, 05 Februari 2019

Bagaimana Berpikir Rasional?

Pada kesempatan kali ini, gw bakalan lebih selow dan nyoba mengarahkan tulisan gw ini, bahasanya gini aja gapapa kali ya, toh paham juga kan.
Nah gimana si caranya berpikir rasional?
Sebelumnya kita harus tau apa itu rasional, kalo di mtk lawannya itu irrasional, tidak nyata artinya, Jadi Rasional itu nyata, berpikir secara nyata, secara kritis, banyak lagi istilah istilah lainnya, intinya adalah berpikir sebagaimana mestinya.
Kadang dalam menyikapi suatu masalah kita masih belum bisa membawa diri kita nih secara baik, bisa perasaan dipake buat mikir, atau mikirnya pake akal aja tanpa ada pertimbangan perasaaan, padahal kita tahu setiap keputusan yang akan kita ambil itu berdampak pada kita, baik pada akal maupun perasaan. Langsung aja deh ke caranya tanpa basa basi.
1. Pahami Akar Masalahnya
Sebenarnya apa si yang lagi lu pikirin, apa itu soal pribadi, sekitar, atau soal umum, lu pahami akar masalah tersebut, biar tahu gimana si caranya menyelesaikan masalah itu.
2. Jangan Malas untuk Belajar
Ini penting, belajar, siapa si yang gasuka belajar, ketika lu dihadapkan pada suatu masalah, untuk menyelesaikan masalah itu ya kita pelajari, biar masalah itu dapat diselesaikan dengan baik.
3. Berdiskusi dengan Sesama
Diskusi penting sob, buat tuker pikiran, pikiran lebih terbuka dan membuka pola pikir.
yang terakhir coba dulu ketiga cara itu, next bakal dilanjutin lagi, kita perlahan lahan aja sob, perlahan dan harus dipastikan itu berjalan. Contoh dari ketiga cara itu misal nih, kalian lagi ada masalah sama temen kalian, temen kalian minjem barang, terus gadibalikin, kalian pahami dulu barang apa si yang dipinjem, apa dia lagi butuh banget barang itu sampe lupa. pahami biar lu ga salah sangka dan berpikir buruk tentangnya, terus tanyain deh ke temen lu yang lebih tau tentang dia, jangan tanya langsung ya pake intro gitu lah, baru deh kalo emang lu urgent sama barang yang dipinjem lu tanya baik-baik, artinya disini kita berpikir realistis gitu. Sekian, maap kalo agak sulit dicerna atau gak nyambung ya.

Sabtu, 02 Februari 2019

Semua Semakin Rumit

Pernahkah Kau pergi ke hutan rimba yang kaya akan binatang buas didalamnya?
Pernahkah Kau pergi mendaki gunung yang terkenal akan mitosnya?
sukakah Kau mengunjungi tempat-tempat seperti itu? Jika iya, ternyata kita memiliki kesamaan.
Sewaktu kecil, hal-hal yang kita temui, kita bermain, belajar, atau kita pergi ke suatu tempat, sungguh menyenangkan tanpa harus berpikir 5w+1h, bukan sok menjadi wartawan yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang terkadang mereka sudah tahu jawabannya, namun masih membutuhkan wawancara yang menurut saya cukup membosankan, itu menurut saya, terserah kalo menurut anda.
Baiklah, sederhana sekali kita diwaktu kecil, tanpa perlu banyak pertanyaan pertanyaan yang timbul, seakan alam memberi tahu jawabannya tanpa kita harus bertanya.
Saat ini, rasanya alam mulai memberikan suatu penghargaan kepada kita, dituntut untuk mencari jawaban dari pertanyaan kita, semakin rumit saja permasalahan yang ada, tidak! Sebenarnya itu sederhana, seperti saat kita kecil, alam telah memberikan jawabannya, namun manusia saja yang tak percaya akan hal itu, membenarkan yang salah, menyanjung-nyanjung yang bersalah, begitu kan manusia sekarang? Kerumitan yang dibuat-buat sendiri, mencoba mencari solusi dengan memperbesar keuntungan untuk dirinya sendiri.
Oh alam maafkan kami yang mendramatisir hidup kami sendiri, aku pun demikian, masih berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan itu, sungguh rumit sekali memahami diri sendiri, terlebih dalam situasi yang sulit. Mungkin kalian sedikit bingung memahami kemana arah tulisan ini, berkali-kali saya menimpal diri saya untuk tidak menulis lagi, memukul-mukul permasalahan hidup tanpa harus memukul keyboard laptop ini, namun biarlah tulisan ini mengalir, kerumitan yang datang pasti akan silih berganti untuk kita selesaikan sebagai prasyarat untuk kita menjadi lebih baik lagi.