Minggu, 17 Februari 2019

Menerima

Pernah merasakan amarah yang membara?
atau merasakan kesedihan yang sepertinya takkan pernah usai?
atau justru merasakan kebahagiaan di setiap harinya
tidak ada amarah, kesedihan ataupun kebahagiaan sejati, itu hanya sebutan untuk kondisi yang mengalaminya saja, coba kita pikirkan andaikata tak ada kata sedih, marah, ataupun bahagia untuk diungkapkan sebagai kondisi yang sedang dialami, tentu manusia takkan mengenal istilah istilah itu. Satu hal yang perlu ditekankan disini adalah, pernahkah kita bahagia atau sedang bahagia bahagianya kemudian datang sebuah kesedihan beruntun hingga kita tak dapat merasakan kebahagiaan kembali, untuk apa semua itu terjadi pada kita? Apa kita sedang dipermainkan oleh diri sendiri? Tidak, sekali lagi tidak, itulah hidup penuh dengan warna, terkadang kita berusaha mengingat ingat kebahagiaan yang pernah kita alami dan berusaha melupakan sesuatu yang membuat kita sedih, namun terkadang juga sulit untuk melupakan kesedihan, justru akan slalu kita ingat, lalu kunci dari semua itu ada dimana? Kuncinya adalah menerima apa yang sudah kita terima, sederhana bukan? Menerima berarti kita memahami bahwa apa yang telah terjadi pada kita adalah suatu suratan dari Sang Kuasa agar kita berpikir, sekali lagi agar kita berpikir atas apa yang telah terjadi pada kita, apakah kita sudah menjadi hamba-Nya yang bersyukur atas setiap karunia yang diberikan oleh-Nya? Mari sekali lagi kita pikirkan, tidakkah kita terlalu sering mengingat kesedihan yang menimpa kita dibandingkan kebahagiaan meskipun itu terlihat biasa bagi kita, misal saja dapat menulis, apa kalian tahu banyak diluar sana yang tidak dapat merasakan bangku pendidikan, bahkan mengenal baca tulis saja tak bisa, namun mereka tetap bersemangat untuk slalu melakukan yang terbaik, lalu sekarang dimanakah posisi kita? sudahkah kita menerima apa yang telah ditakdirkan untuk kita dan berusaha memaksimalkan apa yang telah kita miliki?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar