Kau pernah melihat
rintikan hujan?
Kau pernah melihat buah
kelapa jatuh dari pohon mangga? Et dah pohon kelapa maksudnya?
Pernah pernah? Ini
bukan bakalan bahas hukum gravitasi ya, pernahkah kau melihatnya?
Apakah hujan akan marah
setelah ia berkali kali terjatuh dari langit, itulah cara langit menyampaikan
pesan rindunya pada tanah, gatau hujan peka apa engga sama hubungan langit dan
tanah, tapi terlepas dari itu dengan rintikan hujan tersebut, air yang terjatuh
meresap ke dalam tanah lalu bermuara menuju laut, kemudian air laut menguap
membentuk awan, lalu awan mengalami kondensasi membentuk butiran hujan yang
ditiup dari daerah tekanan tinggi menuju tekanan rendah, bukan berada diatas
laut lagi. Kasihan laut ia hanya sebagai pelampiasan usaha dari air untuk
kembali mengangkasa, namun laut tak pernah berburuk sangka pada air, karena
sejatinya sejauh-jauh air pergi ia juga akan kembali, begitulah siklus hujan
secara sederhana dijelaskan, ada banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil
hikmahnya.
Lalu bagaimana dengan
buah kelapa yang jatuh dari pohonnya, sama-sama terjatuh bukan? Justru lebih
sakit lagi buah kelapa, karena ia tidak dapat berada pada posisinya semula,
tidak dapat lagi bertengger diatas memandang indahnya bumi ini, namun ia tak
bersedih, nasibnya sekarang hanyalah menunggu untuk menjalani takdirnya, apakah
aka nada yang akan mengambilnya, bila ada yang mengambilnya maka dirinya akan
memberikan manfaat secara langsung maupun tidak langsung, daging buahnya dapat
dimakan, batoknya dapat dijadikan arang hingga serabutnya pun dapat digunakan
sebagai alat cuci piring, lalu bila ia dibiarkan saja ia akan menumbuhkan tunas
hingga tumbuh menjadi pohon kelapa, kembali menjulang mengangkasa, bahkan
melebihi sebelumnya, lalu apakah manusia yang terkadang ia terjatuh, tersungkur
karena suatu hal, lalu ia mengeluh, bukan justru memaknai arti dari kejatuhan
tersebut, bagaimana ia dapat memberikan manfaat seluas-luasnya meskipun ia
dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja dan bagaimana ia mampu tumbuh
melebihi ekspektasi sebelumnya, melebihi dirinya sebelumnya.
Bukankah kita diuji
untuk meningkatkan kualitas kita? Apakah dengan kejatuhan masalah kita akan
jatuh? Atau kita justru melangkah untuk menjadikan masalah itu sebagai penguat
diri kita. Dari dua hal sederhana itu kita dapat belajar bagaimana saat kita
terjatuh bukan kita menjatuhkan diri kita lagi karena keadaan yang telah
menjatuhkan, namun bagaimana kita jauh dari beban jatuh itu, kita jatuhkan kejatuhan yang telah menimpa
kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar