Sabtu, 23 Februari 2019

Terjatuh


Kau pernah melihat rintikan hujan?
Kau pernah melihat buah kelapa jatuh dari pohon mangga? Et dah pohon kelapa maksudnya?
Pernah pernah? Ini bukan bakalan bahas hukum gravitasi ya, pernahkah kau melihatnya?

Apakah hujan akan marah setelah ia berkali kali terjatuh dari langit, itulah cara langit menyampaikan pesan rindunya pada tanah, gatau hujan peka apa engga sama hubungan langit dan tanah, tapi terlepas dari itu dengan rintikan hujan tersebut, air yang terjatuh meresap ke dalam tanah lalu bermuara menuju laut, kemudian air laut menguap membentuk awan, lalu awan mengalami kondensasi membentuk butiran hujan yang ditiup dari daerah tekanan tinggi menuju tekanan rendah, bukan berada diatas laut lagi. Kasihan laut ia hanya sebagai pelampiasan usaha dari air untuk kembali mengangkasa, namun laut tak pernah berburuk sangka pada air, karena sejatinya sejauh-jauh air pergi ia juga akan kembali, begitulah siklus hujan secara sederhana dijelaskan, ada banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya.

Lalu bagaimana dengan buah kelapa yang jatuh dari pohonnya, sama-sama terjatuh bukan? Justru lebih sakit lagi buah kelapa, karena ia tidak dapat berada pada posisinya semula, tidak dapat lagi bertengger diatas memandang indahnya bumi ini, namun ia tak bersedih, nasibnya sekarang hanyalah menunggu untuk menjalani takdirnya, apakah aka nada yang akan mengambilnya, bila ada yang mengambilnya maka dirinya akan memberikan manfaat secara langsung maupun tidak langsung, daging buahnya dapat dimakan, batoknya dapat dijadikan arang hingga serabutnya pun dapat digunakan sebagai alat cuci piring, lalu bila ia dibiarkan saja ia akan menumbuhkan tunas hingga tumbuh menjadi pohon kelapa, kembali menjulang mengangkasa, bahkan melebihi sebelumnya, lalu apakah manusia yang terkadang ia terjatuh, tersungkur karena suatu hal, lalu ia mengeluh, bukan justru memaknai arti dari kejatuhan tersebut, bagaimana ia dapat memberikan manfaat seluas-luasnya meskipun ia dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja dan bagaimana ia mampu tumbuh melebihi ekspektasi sebelumnya, melebihi dirinya sebelumnya.

Bukankah kita diuji untuk meningkatkan kualitas kita? Apakah dengan kejatuhan masalah kita akan jatuh? Atau kita justru melangkah untuk menjadikan masalah itu sebagai penguat diri kita. Dari dua hal sederhana itu kita dapat belajar bagaimana saat kita terjatuh bukan kita menjatuhkan diri kita lagi karena keadaan yang telah menjatuhkan, namun bagaimana kita jauh dari beban jatuh itu,  kita jatuhkan kejatuhan yang telah menimpa kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar