Sudah berapa lama waktu perbedaan kita?
Sudah berapa jarak kau lalui tanpaku?
Sudah berapa kata kulukiskan, kugambarkan dirimu, ingin kubuang kenangan antara ini.
Pertemuan berantonim dengan perpisahan
mengapa mereka harus ada?
Kenapa tidak hanya pertemuan saja, lalu disusul dengan segala kebahagiaan yg datang silih berganti?
Adilkah antara pertemuan dan perpisahan yg slalu beriringan?
Adilah, ya adil lah maksudnya.
Kenapa demikian?
mari kita mudahkan satu hal ini, bila seseorang sedang bertemu dengan kebahagiaan lalu tanpa berpisah dengannya, tentu kebahagiaan menjadi sesuatu yang hambar atau justru membosankan, bertemu dengan kebahagiaan terus menerus tanpa ada kesedihan yang datang, ya memang itu menjadi impian banyak orang, namun untuk orang yang memiliki naluri tentu itu menjadi sesuatu yang menyebalkan, begitu juga dengan seseorang yg terus bertemu dengan kesedihan, tentu sangat kurang menyenangkan, ya begitulah.
Sudah sejauh mana kita mampu memahami dua hal tersebut? Pertemuan dan Perpisahan? Tanpa kita sadari atau tidak setiap hari kita bertemu dengan matahari dan bulan, tentu bukan? Belajar dari alam terkadang lebih menyenangkan dibanding belajar di kelas, hanya terkadang saja, namun kita perlu memahami sudah sejauh mana kita mampu menerima tiap momen pertemuan dan perpisahan yang silih berganti kita lewati
Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar