Wahai gelap gulita
Pancarmu kian menerpa
Saat diri ini ada dalam duka
Kau beri isyarat penuh sayatan luka
Wahai gelap gulita
Kenapa kau tak mau pergi dariku
Kenapa kau penuhi ruang titik dalam hatiku
Hingga tak tahu apakah masih tersisa cahaya dalam diri ini
Hai manusia
Sesuatu dengan akal dipenuhi pikir digandrungi dengan nafsu
Bukankah kau berpikir dengan akal bukan dengan nafsu?
Tidakkah kau berpikir
Bukankah bintang kau lihat ketika gelap menggema dalam ruang semesta
Bukankah cahaya bermanfaat menerangi sebuah kegelapan
Lalu apa artinya suatu cahaya tanpa adanya kegelapan?
Akhrijnii mina dzulumaati ilaannuur
Yang aku inginkan pun begitu
Namun semesta lebih tau takdirku
Menjadi figuran indahnya sebuah cahaya
Wahai jiwa yg dapat melihat indahnya dunia
Wahai ruang kegelapan
Apakah kalian bersekongkol hah?
Agar aku tak dapat melihat cahaya
Cahaya terus menerus kalian nikmati
Kegelapan, sudikah kalian pergi sejenak dari ruang penglihatanku
Agar aku mampu
Melihat diriku sendiri, melihat Indahnya ciptaan-Nya
Tidak, sekali lagi tidak
Bukankah sesuatu telah diciptakan sesuai takarannya
Wahai jiwa yg tak terlihat olehmu seberkas sinar sehelaipun
Tidakkah kau tahu?
Justru ketika gelaplah kita menikmati indahnya kekaguman kita pada Sang Pencipta
Bukankah banyak orang diluar sana berusaha khusuk dengan memejamkan matanya
Bersyukurlah kau tak gunakan pandanganmu tuk maksiat
Karena pandang berhargamu akan bertatap rindu dengan Sang Penata Qolbu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar