Ketika mulut mengingkari hati, laksana pembantu yang mengingkari majikannya, bagaimana mungkin pengendali seluruh aktivitasmu itu kau ingkari, hati seseorang menunjukkan jatidiri orang tersebut, kita pun bisa mendefinisikan bagaimana hati yang bersih, kotor, kuat dan rapuh, namun sejatinya kita tak ampu menilai hati seseorang, dan ingat satu perkara bahwasanya sangat mudah hati kita untuk dibolak-balikkan, contohnya ketika hari ini menginginkan A besok belum tentu kita menginginkan hal yang sama lagi.
Ada satu momen dimana hati berpengaruh dalam proses tersebut, yaitu ketika beraktivitas, momen sehari-hari bukan. Lihatlah orang-orang di sekelilingmu bagaimana Ia mampu hidup dengan segala tekanan, bagaimana Ia bangkit setelah keterpurukannya, salah satu kuncinya adalah jujur pada diri sendiri, mengatakan apa yang sebenarnya pada diri sendiri. Bagaimana mungkin? Mungkin saja begitu, kita lihat kita sering pura-pura terlihat bahagia atau lebih bodoh lagi kita ingin membahagiakan orang yang berarti bagi kita yang belum tentu berarti kita baginya, menyedihkan sekali.
Ketika kita menghadapi sebuah pergolakan dalam hati kita, katakan sejujurnya, bersihkan apa yang berpu dibersihkan, karena hati yang bersih itu tentu dibalut oleh luka-luka yang dialami pemiliknya, yang ikhlas serta ridho akan ketentuan-Nya, sementara hati yang kuat tentu yang siap dan sedia menerima permasalahan yang silih datang berganti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar