Sebuah cerita tentang seorang pemuda yang berusaha meninggalkan kebiasaan lamanya, kebiasaan yang mengganggu jiwanya, mengganggu ketenangan pikiran, serta menghabiskan banyak waktu dan pengorbanan lainnya.
Seorang pemuda yang sedang mencari jati diri, membentuk jati diri, mengkonsolidasi diri untuk menggapai apa yang sebenarnya ingin digapai.
Bertemu dengan seseorang yang teramat indah, seorang phyloginik, wajar saja pengagum kecantikan, sebuah fatamorgana yang ada, sebuah perkataan yang kadang terngiang dalam pikiran "mencintai banyak orang lebih mudah daripada melupakan seseorang", tentu seseorang itu teramat spesial hingga teringat ingat untuk dilupakan, kalo sudah lupa tak mungkin untuk diingat, atau sekadar menulis, aku sudah melupakanmu. omong kosong soal itu, usaha untuk melupakan adalah sebuah usaha untuk menghapus apa yang telah terukir, tergantung ukirannya, seberapa indahkah? seberapa berhargakah ukiran itu? Kalian punya tips untuk melupakan seseorang yang teramat indah untuk dilupakan?
Ada rasa takut, kecewa, cemas, bahagia, suka, sedih bercampur macam es campur, sayangnya tidak dapat dikonsumsi. Takut ketika menghadapi kenyataan seseorang itu sedang dekat dengan orang lain, orang itu telah bahagia dengan orang lain, menurut saya pikiran toxic seperti itu harus dijauhkan jauh-jauh, kenapa saya menulis ini? Mungkin salah satu alasan saya menulis adalah membuka diri saya untuk lebih realistis, ada sekitar 8 miliar manusia di dunia ini, ketika seseorang itu sudah tidak mungkin untuk dilupakan, terimalah kenyataan itu, kalau dia memang sudah takdirmu, dia akan hadir dengan kondisi yang mungkin tidak kamu duga sebelumnya, seperti kata orang dahulu "jodoh tak kemana". ya kita dari tadi sedang membahas seseorang, seorang perempuan yang indah matanya, mungil namun anggun, seperti mutiara dalam palung laut samudera, atau kecantikan abadi bunga edelweis di puncak gunung, mengagumi kecantikan tanpa dorongan nafsu adalah sesuatu yang amat jarang untuk zaman yang seperti ini, terlalu mudah ikut-ikutan sama yang namanya nafsu, sehebat apapun diri kita, kadang masih saja dikendalikan oleh nafsu, oleh karena itu perlukah sekali lagi melupakannya? Sudah lama sekali tak berkabar, namun masih teringat dalam ingatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar